Seperti Apa Sih Kategori Low MPV / SUV?

Halo…afa kabar?

Membaca tabloid Otomotif edisi 20-26 Agustus 2015 YHT tergelitik untuk merespon salah satu artikel yang ada di tabloid tersebut, mengenai harga mobil yang kian mahal, masih pantaskah disebut LMPV? Secara panjang lebar dibahas bahwa definisi kata “low” sendiri sebetulnya mengacu pada banyak hal dimana sebagian konsumen mengira mengenai harga dan sebagian lagi kepada dimensi.

v1h4WhOko5

Namun ada tambahan satul lagi dari produsen yaitu mesin, karena menurut Davy J Tulian, Deputy 4W Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales penyebutan LMPV sendiri untuk kondisi mobil dengan mesin sekitar 1.500 cc. Sementara itu Budi Nur Mukmin, General Manager Marketing Strategy and Communication PT Nissan Motor Indonesia sepakat bahwa istilah LMPV hanya dikenal di dunia otomotif saja dan konsumen tidak terlalu peduli dengan segmentasi ini, selama mampu dimiliki maka hal tersebut tidak terlalu bermasalah. LMPV mengacu kepada kisaran harga yang lebih rendah dibanding MPV lainnya tambahnya lagi.

Sedangkan Suparno Djasmin, Vice President Director PT Toyota Astra Motor mengatakan bahwa dengan kenaikan biaya dan harga yang terjadi maka konsep LMPV juga mengalami kenaikan harga, namun tetap dipertimbangkan sebagai LMPV. Menurut survey dengan value good for money yang dilakukan, harga jual masih masuk dengan daya beli masyarakat. Sudirman MR, President Director PT AStra Daihatsu Motor menyebutkan dengan harga yang sekarang Great New Xenia masih tetap masuk akal karena kenaikannya hanya Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Nah itu pendapat para produsen mobil…. sangat disayangkan tabloid Otomotif tidak menyertakan tanggapan para konsumen.

Bebin Djuana selaku pengamat otomotif juga buka suara perihal potensi “kepunahan” LMPV dengan rentang harga Rp 100 juta hingga Rp 150 juta. Dengan masih diminatinya kendaraan dengan banderol yang menggiurkan tersebut maka sebagian masyarakat merespon kenaikan harga LMPV dengan membeli kendaraan niaga berpenumpang model baru seperti Daihatsu Grand Max atau LMPV berstatus janda bekas…

Nah kalau dilihat lihat memang definisi LMPV sendiri sudah bergeser menyesuaikan dengan pasar itu sendiri…sebagai contoh Toyota Kijang…ketike dulu saat pertama kali Kijang di develop tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan kendaraan niaga berharga murah, yup dengan model awal sederhana sehingga mudah dimodifikasi untuk berbagai macam tujuan termasuk kendaraan penumpang. Namun lambat laun seiring dengan makin populernya Kijang akhirnya berevolusi menjadi kendaraan penumpang kelas menengah menyesuaikan dengan dimensi dan harga….

mobil-lcgc

Hal yang sama menurut YHT terjadi lagi untuk Avanza / Xenia yang pada awalnya adalah untuk mengisi celah kosong di rentang harga 150 juta ke bawah lambat launpun merangkak naik menuju kelas 200 jutaan, lalu bagaimana dengan kelas “bawah” tersebut? Tentunya pihak pabrikan sudah mengantisipasinya dengan meluncurkan “LCGC”….. Jadiiii….memang kelas kelas tersebut diciptakan oleh produsen sebagai strategi marketing untuk mengarahkan mindset para calon konsumen bahwa mobil yang masuk kelas “low” memang sebagai produk yang dibutuhkan masyarakat sesuai dengan harga dan fiturnya yang “value for money”…

Itu menurut YHT lho….gimanaa?

Advertisements

2 responses to “Seperti Apa Sih Kategori Low MPV / SUV?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s